Backpacking Perdana

luggage

Awal Maret 2013, tepat tiga bulan menuju koass, saya liburan ke luar negeri untuk pertama kalinya. Minggu terakhir bulan April semua urusan berhubungan dengan yang namanya yudisium telah saya selesaikan dan tinggal berharap bahwa saya bisa  sarjana tepat waktu. Beberapa bulan sebelumnya, saya sudah diajak liburan bareng Eric tapi saya anggap sambil lalu karena saat itu saya belum punya paspor. Setelah sidang barulah muncul perasaan ‘bosan’ kuliah apalagi koass sudah di depan mata. Daripada jenuh di tengah jalan, saya pun memutuskan ikut teman – teman backpacking keliling asean.

Kuala Lumpur – Phuket – Bangkok. Karena memutuskan ikut di detik terakhir, saya harus membayar tiket non promo yang lebih mahal satu juta dibandingkan yang lain. Total saya mengeluarkan uang 3.6 juta rupiah untuk biaya pesawat PP dan penginapan. Geng kami terdiri atas lima orang yaitu Eric, Mesha, Dian, Firda, dan saya sendiri. Kami adalah teman sekelas selama tiga tahun yang baru pertama kali ini liburan bareng. Sesuai itinerary buatan Eric, kami akan berada di KL selama dua hari, naik pesawat menuju Phuket dan menginap disana tiga hari, naik bus menuju Bangkok lalu pulang ke Indonesia seminggu setelah berangkat (solid plan). Rencananya kami akan menginap di beberapa penginapan dan saat di KL kami akan menginap satu hari di rumah keluarganya Mesha.

Masalah dengan pembelian tiket yang terlambat adalah saya harus naik pesawat yang berbeda dengan teman – teman (saat ke KL). Pesawat saya berangkat satu jam lebih dahulu. Pesawat yang berbeda ditambah lagi dengan pengalaman saya liburan ke luar yang masih 0 besar, membuat saya nervous dengan hal – hal yang kemungkinan terjadi. Mulai dari masalah imigrasi hingga masalah kecil di barang bawaan terpikir saat akan berangkat dari Juanda. Membaca travelblog di internet tidak banyak membantu malah membuat saya makin cemas. Karena memang niatnya liburan, saya mencoba untuk gak banyak berpikir dan menjalaninya dengan enjoy. Terlepas dari beberapa momen mati gaya di KLCC, perjalanan pertama kali ke luar ini terbilang lancar. Imigrasinya lumayan ramah dan karena memang Malaysia sebelas duabelas dengan Indonesia, orang – orang dan suasananya masih terasa familiar. Satu setengah jam setelah mendarat, saya berkumpul kembali dengan teman – teman dan acara liburan kami di negeri tetangga resmi dimulai.

Best moment. Hal menarik dari liburan adalah bahwa kita bisa melupakan sejenak rutinitas sambil merasakan suasana yang berbeda dengan yang biasa kita alami. Semua pengalaman saya sewaktu itu menarik namun ada satu pengalaman yang paling berkesan. Pengalaman itu adalah saat kami berada di Phuket dan menyewa motor matic. Saat itu kami menyewa tiga motor seharga masing – masing 150 baht/ 45.000 rupiah untuk pemakaian 24 jam. Saat itu kami naik motor berpasangan mengunjungi Big Budha, Wat Chalong, Phuket Town dan Promthep Cape. Walau bolak – balik nyasar dan kepanasan, pengalaman itu adalah hal yang paling menyenangkan selama saya liburan. Ada suatu waktu motor kami kehabisan bensin di tengah kegelapan hutan dan jalan pinggir pantai Phuket sehingga kami harus mengutus Mesha untuk kembali ke Promthep Cape membeli bensin. Di tengah suasana agak menyeramkan itu kami bukannya diam malah ketawa keras – keras tentang kejadian – kejadian konyol yang terjadi sambil foto – foto. Benar – benar menyenangkan..

Less enjoyable moment. Pulang dan mengakhiri liburan adalah hal yang kurang saya sukai saat itu. Setelah lumayan kelelahan mengelilingi Bangkok, kami akhirnya kembali ke tanah air seminggu sejak berangkat. Pengalaman yang juga kurang menyenangkan adalah saat kami naik bus Phuket – Bangkok. Kami mengikuti James Bond tour dua hari sejak berada di Patong. Setelah check out kami langsung mengikuti tour yang menghabiskan waktu sekitar delapan jam itu. Tour nya cukup menyenangkan, namun kelelahan setelahnya membuat pengalaman saya naik bus malam menuju Bangkok kurang berkesan. Setelah dari pulau James Bond kami langsung diturunkan di terminal 2 Phuket untuk naik bus malam. Saya menyempatkan diri untuk mandi di terminal dengan air seadanya. Busnya mirip bus Denpasar – Malang namun kursinya lebih kecil. Saya yang bertinggi badan 183 cm dan kaki yang panjangnya gak nanggung harus mengalami cobaan diri ini selama satu malam. Mau tidur dalam posisi apapun juga sulit. Kaki saya jadinya agak pegal karena sandaran kursi di depannya.

Namanya juga budget travelling ya harus dijalani aja dengan enjoy. Itulah juga gunanya travelling. Kata orang sih travelling membuat kita menyadari betapa kuatnya diri kita menghadapi sesuatu, namun di saat yang bersamaan kita bisa menjadi sangat lemah oleh karena hal sepele. Dengan berada jauh dari rumah, seseorang juga bisa mengenal dirinya lebih dalam lagi. Thank you guys for this experience, you’re awesome..

nb. foto dokumentasi pribadi Mesha Syafitra, Firdah Zuniar, Gallusena Erik, dan Meidiana Pertiwi

hang kasturi Rdnational mosquenational palacemasjid putrajayakaron beach big budha phuketwat calongpromthep capejames bond islandhong island

chocolate vile grand palace

http://blog.travelpod.com/travel-blog/ariohendra/1/tpod.html

Iklan

9 pemikiran pada “Backpacking Perdana

  1. Betul. Semakin banyak baca blog orang jadinya semakin ragu dan takut. Tapi di blogku sendiri kubilang, jangan peduli dengan pengalaman buruk traveler lain karena apa yang menimpanya belum tentu akan kita rasakan 🙂

    Seru banget jalan-jalannya ^^

  2. wuih bener2 jalan2 neh. blogger traveler ternyata makin banyak. saya realistis aja, pas buat jalan2 gini, sy gak bakal bisa. soalnya sibuk di rumah, sibuk di sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s