Kunjungan Keluarga Jauh

Welkom in Malang

Liburan lebaran kemarin saya habiskan bersama keluarga di Malang. Rencana liburan ke Lombok, Bali dan Jogja harus kami undur karena kesehatan mbah saya memburuk setelah jatuh. Sempat tegang juga karena ‘jatuh’ itu salah satu hal yang paling harus dihindari kalau kita sudah berumur lanjut. Kondisi mbah saya saat itu  membaik setelah beberapa hari dan sudah diperbolehkan pulang. Konsekuensinya beliau harus selalu di tempat tidur karena mengalami keretakan pada tulang paha (fracture neck femur).

 Bedanya dari tahun tahun sebelumnya, sekarang prosesi maaf maafan dan silaturahmi dilakukan di kamar RS. Keluarga besar saya dari ibu semuanya berkumpul setelah shalat Ied. Tante dan Ibu saya membawa opor dan makanan lainnya, kami makan layaknya acara prasmanan dan duduk di sekitar tempat tidur mbah. Tiap jam, ada saja kerabat yang datang bersilaturahmi. Ada yang dari Malang Selatan, Probolinggo, Jakarta,  hingga dari Eropa. Loh kok bisa? Jadi ceritanya waktu itu kami dapat kunjungan keluarga dari Belanda. Saat itu Opa saya datang liburan ke Indonesia dengan Edward (paman), Claartje (pasangannya Edward), Gerben dan Naomi (sepupu). Kunjungannya pun tak terduga, sudah lama keluarga kami tidak mendapat kabar dari Belanda. Suatu hari paman saya, searching facebook dan nemu profil paman Edward, dari sanalah komunikasi dengan keluarga jauh kita terhubung lagi.

naomi-gerben-opa-edward-claartje

Dibilang keluarga jauh sih juga bukan. Keluarga saya yang dari ibu ga ada turunan Belanda nya, sedangkan keluarga dari Belanda ada darah Indonesianya. Ibu dari kakek saya (oma buyut) menikah dengan orang Indonesia (kakek buyut) dan keturunannya itu keluarga saya yang ada di Indonesia.  Setelah kakek buyut saya meninggal (usia masih cukup muda), oma buyut menikah kembali dengan orang Belanda. Mereka tinggal bersama di Surabaya lalu pindah ke Lawang. Mbah saya (kakek) tinggal bersama saudaranya yang keturunan Belanda hingga tahun 1945 saat kemerdekaan. Orang orang Belanda diusir dari Indonesia kembali ke negaranya. Sejak saat itu mereka terpisah dan akhirnya baru saling mengunjungi kembali tahun 90 an.

Kembali ke cerita, rencananya mereka akan berlibur di Malang selama lima hari dan akan mengunjungi Ubud sebelum kembali ke Belanda. Di Malang, mereka menginap di Regent’s Park hotel. Lokasinya persis sebelah RS dan beberapa ratus meter dari rumah saya. Setelah melepas rindu dan saling ngobrol dengan keluarga, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. Opa yang memang lagi kangen sama masakan Indonesia, saat itu lagi ngebet banget makan sayur lodeh, akhirnya kita sepakat untuk makan malam di rumah. Ibu saya menyiapkan sayur lodeh dan makanan paling poluler negeri kita yaitu sate. Jarak yang dekat dengan hotel, membuat saya jadi supir selama satu malam. Mau gimana lagi cuma saya yang punya SIM Indonesia, bapak saya males nyetir (katanya). Di rumah, kita ngobrol ngobrol panjang lebar mengenai apapun. Sekalian ngelatih bahasa Inggris, kita saling cerita cerita budaya masing masing. Ternyata mereka seneng banget sama suasana di Indonesia, lebih ‘santai’ katanya. Mereka suka cuacanya, makanannya, dan orang nya yang ramah. Gerben dan Naomi yang lumayan seumuran sama saya dan adik saling cerita cerita pekerjaan hingga suasananya tinggal di Belanda. Habis makan, kita foto foto dan akhirnya mereka kembali lagi ke hotel.

Hari berikutnya, mereka pergi ke Bromo dan rencananya besoknya kita mau makan malam sekeluarga besar. Tempat yang dipilih yaitu Toko Oen. Kayanya mesti ya orang Belanda yang ke Malang makannya di Oen, padahal menunya ya masakan Belanda. Saya yang emang ndeso udah ngebayangin mau makan menu Belanda yang aneh aneh, tapi ternyata makanan yang dipilih semua masakan Indonesia. Acaranya sih nyantai nyantai aja, pertama kita di foto per keluarga terus foto foto random sampai semuanya udah ngumpul. Saat itu kita nanya nanya gimana perjalanannya ke Bromo. Mobil yang mereka tumpangi ternyata mogok dan akhirnya kepanasan nunggu sampai tengah hari baru sampai di Bromo. “Overall it has been a nice experience” kata Gerben sambil mamerin foto fotonya. Saat itu saya duduk di sebelah Claartje dan selalu dihabisi pertanyaan pertanyaan ini dan itu. Dia pingin tahu gimana sih pendidikan di Indonesia, kesehatan, sampai kenapa sih kita ga boleh ngasih uang ke pengemis. Adik saya asik ngobrol sama Naomi, dan saya ngobrolnya sama Gerben. Dia juga suka film sama kaya saya, selera musiknya juga keren, emang kece ya orang Eropa. Setelah semua kumpul, ada sedikit sambutan dari Opa dan Edward, bapak saya yang nerjemahin ke bahasa Indonesia.

sambutan dikit

foto sekeluarga

naomi, my sister, me

Beberapa hari setelah itu kami menemani mereka ke Lawang untuk mengenang jaman Opa masih kecil. Dia bercerita gimana susahnya jadi orang Belanda saat kemerdekaan. Ceritanya sangat menginspirasi bahwa masa penjajahan selama 350 tahun itu telah menjadikan banyak orang Belanda dan Indonesia selayaknya saudara. Di hari kelima, mereka meninggalkan Malang dan pergi ke Bali, sedih juga rasanya baru aja ketemu udah mau berpisah. Opa dan Edward juga berpesan kalau kita ke Belanda jangan lupa untuk menghubungi mereka, Hope someday we will meet again in Netherlands..

Amsterdam

Sumber gambar:

Wikipedia

doc pribadi Edward Geus dan Gerben Wajer

Iklan

37 pemikiran pada “Kunjungan Keluarga Jauh

  1. keren keluarganya dari belanda. ngebayanginnya emang rada2 romantis jika dulu gak semua belanda bermusuhan dengan indonesia, begitu juga sebaliknya. ada juga ya yang berteman bahkan menikah.

  2. Kayaknya hubungan Indonesia-Belanda itu banyak nilai melankolisnya yaa.. Waktu ke Belanda juga rasanya banyak banget hal-hal yang berhubungan dengan Indo dibanding negara yang lain.. *yaiyalah*

  3. Subhanallah.. itu yang puluhan tahun banget gak ketemu, akhirnya bisa ketemu lagi…so sweet. Semoga yang sakit segera pulih kembali ya 🙂
    Aku ingat, di kampungku ada juga perempuan (yang kalo gak salah) keturunan Belanda. Anak2nya bule banget. Lucu aja rasanya, ada bule yang ngomong pake bahasa daerah 😀

    • iya mba romantis ya, makasih mba skrg nenek sy sudah sehat 🙂
      kalo keluarga sy ini agak beda mba, mereka di Belanda sering dikira orang Ambon dan sering diajakin ngomong bhs Indonesia saking ga miripnya sama bule hehe

  4. waah so sweet 🙂 believe it or not, cerita kamu ini mirip keluarganya meidiana lho mahe.. kakek neneknya malah orang belanda asli. dan akhirnya berpisah juga karena masalah kependudukan. kakek dan maminya akhirnya memilih WNI, sdangkan nenek, tante n omnya balik ke belanda. pemerintahan jaman dulu emg rada kejam 😦

    • iya tah may? ak juga kapan itu diceritain kalo meidiana punya keluarga di Belanda, tapi baru tahu kalo kakek dan neneknya harus pisah gitu, sedih ya, trus skrg msh sering ketemu ga ya?

  5. bagaimana yaa mau nyari keluarga yg udh tidak tau lagi rimbanya.. hanya menyisakan foto saja… pernah dengar dulu dari alm.ibu banyak keluarga opa di belanda… tapi apa yaa bisa nyarinya yaa…

  6. kamu bisa mencari keluarga mu arif dengan cara kamu cari di sosial media seperti facebook ataupun twitter dengan catatan kamu gunakan nama belakang mis. quin doob maka kamu harus mencrix yg akhiranx.
    sama seperti aq yang juga awalnya sama sprti kamu mencri informasi ttg keluarga aku yg di belanda sana dan cara yang aku pakai itu berhasil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s